Media Jepang Sorot WNI Bernama Naruto dan Doraemon, Dukcapil Ungkap Datanya Fenomena pemberian nama penduduk Indonesia kembali menarik perhatian publik internasional. Kali ini sorotan datang dari Jepang setelah data Direktorat Jenderal Kependudukan dan Pencatatan Sipil Kementerian Dalam Negeri memperlihatkan ratusan penduduk Indonesia mempunyai nama yang identik dengan tokoh, klan, atau karakter populer dari anime dan manga Jepang.
Nama seperti Uzumaki, Naruto, Sasuke, Uchiha, Nobita, Doraemon, D. Luffy, hingga Suneo ternyata benar benar tercatat dalam basis data kependudukan Indonesia. Temuan tersebut sebelumnya dipaparkan Direktur Jenderal Dukcapil Kemendagri Teguh Setyabudi dalam Rakornas Dukcapil 2026 sekaligus Rilis Data Kependudukan Bersih Semester I 2026 pada awal Agustus.
Media Jepang Mainichi Shimbun kemudian mengangkat fenomena tersebut pada 9 Agustus 2026. Liputannya menyoroti keberadaan 190 penduduk bernama Uzumaki dan 181 orang bernama Nobita. Fakta itu dianggap menarik karena memperlihatkan seberapa jauh popularitas anime Jepang telah masuk dalam kehidupan masyarakat Indonesia, bahkan sampai pada pemilihan nama resmi yang tercatat di dokumen kependudukan.
Mainichi Shimbun Ikut Membicarakan Nama Warga Indonesia
Perhatian media Jepang muncul beberapa hari setelah data Dukcapil ramai diberitakan media Indonesia. Mainichi Shimbun membawa pembahasan itu kepada pembaca Jepang dengan menempatkan nama Uzumaki dan Nobita sebagai contoh paling menonjol.
Judul yang digunakan Mainichi secara khusus menyebut Nobita dan Uzumaki. Media tersebut mencatat terdapat 190 orang dengan nama Uzumaki dan 181 orang dengan nama Nobita berdasarkan data registrasi penduduk yang diumumkan Kementerian Dalam Negeri Indonesia.
Liputan tersebut menarik karena nama yang terdengar sangat akrab bagi masyarakat Jepang ternyata digunakan sebagai identitas resmi warga negara lain.
Uzumaki merupakan nama keluarga karakter utama Naruto. Sementara Nobita merupakan salah satu tokoh utama Doraemon yang telah dikenal lintas generasi di berbagai negara, termasuk Indonesia.
Mainichi menggambarkan fenomena tersebut sebagai bagian dari kuatnya popularitas anime Jepang di Indonesia. Artikel tersebut juga menggunakan istilah Jepang yang biasa dipakai untuk membicarakan nama yang sangat mencolok atau tidak biasa.
Istilah tersebut tentu bukan kategori resmi dalam administrasi kependudukan Indonesia. Dukcapil hanya menunjukkan bahwa nama nama itu memang ditemukan dalam data penduduk.
Dukcapil Menegaskan Data Ini Bukan Candaan
Ketika memaparkan temuan tersebut, Teguh Setyabudi bahkan merasa perlu menegaskan bahwa informasi yang disampaikannya benar benar berasal dari data kependudukan.
Ia mengatakan banyak orang tua tampaknya menyukai karakter animasi kemudian menggunakan nama yang serupa untuk anak mereka. Teguh menegaskan dirinya berbicara berdasarkan basis data Dukcapil, bukan sekadar mengambil contoh dari media sosial.
Pernyataan itu diperlukan karena beberapa nama memang terdengar seperti sesuatu yang biasa ditemukan pada akun permainan atau nama pengguna internet.
Namun, data Dukcapil menunjukkan bahwa nama tersebut berada dalam pencatatan penduduk.
Artinya, seseorang yang memperkenalkan dirinya sebagai Naruto, Nobita, Sasuke, atau Doraemon di Indonesia belum tentu sedang menggunakan nama panggilan.
Nama itu dapat benar benar tercatat dalam dokumen resminya.
“Menurut penulis, bagian paling menarik bukan sekadar kemunculan nama Naruto atau Nobita. Data ini memperlihatkan bagaimana tayangan yang dikonsumsi satu generasi dapat ikut memengaruhi keputusan keluarga ketika memberi identitas kepada generasi berikutnya.”
Uzumaki Mengalahkan Naruto dalam Jumlah Pengguna
Nama yang paling banyak ditemukan dalam daftar ternyata bukan Naruto.
Dukcapil mencatat 190 penduduk menggunakan nama Uzumaki. Jumlah tersebut menempatkan Uzumaki di posisi pertama dalam daftar nama yang dikaitkan dengan anime Jepang.
Naruto sendiri berada di posisi keempat dengan 157 penduduk.
Sasuke berada sedikit di atasnya dengan 158 orang, sedangkan Uchiha tercatat digunakan oleh 152 penduduk.
Boruto juga muncul dengan jumlah 60 orang.
Jika lima nama yang sangat dekat dengan dunia Naruto tersebut digabungkan, jumlah pencatatannya mencapai 717.
Angka tersebut tidak berarti seluruh pemilik nama pasti dinamai karena anime Naruto. Nama seseorang dapat mempunyai latar keluarga atau alasan lain yang tidak diketahui Dukcapil.
Namun, pemaparan pemerintah memang menempatkan nama nama tersebut dalam kategori yang dikaitkan dengan tokoh animasi.
Nobita Berada di Posisi Kedua
Nama Nobita menjadi temuan lain yang sangat menarik bagi media Jepang.
Dukcapil mencatat 181 penduduk Indonesia bernama Nobita. Angka itu bahkan lebih tinggi daripada jumlah penduduk bernama Naruto.
Doraemon sendiri tercatat digunakan oleh 16 orang.
Suneo yang menjadi salah satu teman Nobita ditemukan pada delapan penduduk.
Teguh sempat menyinggung Suneo dengan nada ringan ketika memaparkan data tersebut dalam Rakornas Dukcapil. Namun, seluruh angka yang dipresentasikan tetap bersumber dari data penduduk pemerintah.
Kehadiran Nobita dan Doraemon sebenarnya tidak terlalu mengejutkan apabila melihat panjangnya hubungan masyarakat Indonesia dengan serial tersebut.
Doraemon telah hadir di televisi Indonesia selama sekitar 35 tahun sebelum penayangannya melalui salah satu stasiun televisi nasional berakhir pada awal 2026. Selama periode yang sangat panjang itu, serial Doraemon menjadi bagian dari kebiasaan menonton akhir pekan bagi beberapa generasi masyarakat.
Orang yang tumbuh menonton Doraemon pada dekade 1990 dan 2000 kini sudah banyak yang memasuki usia sebagai orang tua.
Daftar Nama Anime dalam Data Dukcapil
Data yang dipaparkan Dukcapil mencakup 12 nama yang dikaitkan dengan karakter atau dunia anime Jepang. Uzumaki menempati posisi teratas, disusul Nobita, Sasuke, Naruto, dan Uchiha.
| Nama | Jumlah penduduk |
|---|---|
| Uzumaki | 190 |
| Nobita | 181 |
| Sasuke | 158 |
| Naruto | 157 |
| Uchiha | 152 |
| D. Luffy | 79 |
| Shinchan | 65 |
| Boruto | 60 |
| Usopp | 37 |
| Inuyasha | 23 |
| Doraemon | 16 |
| Suneo | 8 |
Daftar tersebut memperlihatkan bahwa serial Naruto mempunyai representasi paling banyak melalui beberapa nama berbeda.
Doraemon diwakili Nobita, Doraemon, dan Suneo. One Piece muncul melalui D. Luffy serta Usopp.
Ada pula Shinchan dari Crayon Shinchan dan Inuyasha dari serial dengan judul yang sama.
One Piece Ikut Masuk Dokumen Kependudukan
Penggemar One Piece juga mempunyai wakil cukup banyak dalam data Dukcapil.
Nama D. Luffy tercatat digunakan oleh 79 penduduk, sedangkan Usopp ditemukan pada 37 orang.
D. Luffy jelas mengingatkan pada Monkey D. Luffy, tokoh utama One Piece.
Penggunaan huruf D juga menjadi bagian yang sangat khas karena nama tersebut tidak sekadar memakai Luffy, tetapi ikut membawa unsur penamaan yang dikenal luas dalam serial.
Media asing yang memberitakan fenomena Indonesia turut menyoroti bagian ini. Chosun Ilbo edisi Jepang, misalnya, membahas Naruto, Nobita, dan Luffy dalam laporan mengenai penggunaan nama karakter manga Jepang oleh masyarakat Indonesia.
Sekali lagi, data yang tersedia tidak menjelaskan alasan pribadi setiap keluarga ketika memilih nama.
Namun, kesamaan bentuknya membuat pengaruh budaya populer sulit diabaikan.
Shinchan dan Inuyasha Juga Tercatat
Nama yang terhubung dengan anime Jepang tidak berhenti pada tiga waralaba terbesar.
Dukcapil menemukan 65 penduduk bernama Shinchan.
Nama Inuyasha digunakan oleh 23 orang.
Dua nama tersebut menarik karena mewakili serial dari periode popularitas yang berbeda.
Crayon Shinchan lama dikenal masyarakat Indonesia melalui televisi, sementara Inuyasha menjadi salah satu anime Jepang yang mempunyai penggemar kuat pada era ketika televisi nasional banyak menayangkan serial animasi impor.
Kehadiran nama dari berbagai periode memperlihatkan bahwa fenomena tersebut bukan berasal dari satu anime saja.
Inspirasi dapat berubah mengikuti tayangan yang populer ketika orang tua berada pada usia tertentu.
Mengapa Media Jepang Menganggapnya Menarik?
Bagi pembaca Indonesia, penggunaan nama karakter asing mungkin tidak terasa sepenuhnya baru.
Nama yang terinspirasi artis, atlet, tokoh film, negara, bahkan merek telah lama ditemukan dalam kehidupan sehari hari.
Namun, dari sudut pandang Jepang, melihat nama seperti Uzumaki atau Nobita digunakan oleh ratusan warga Indonesia tentu mempunyai daya tarik tersendiri.
Uzumaki dalam bahasa Jepang berarti pusaran dan sangat lekat dengan identitas Naruto Uzumaki bagi penggemar manga dan anime.
Nobita juga merupakan nama yang hampir tidak dapat dipisahkan dari karakter Doraemon.
Karena itulah Mainichi memberikan perhatian khusus kepada dua nama yang berada di posisi teratas. Media tersebut menghubungkannya dengan kuatnya popularitas anime Jepang di Indonesia.
Fenomena ini juga kemudian dibicarakan media lain berbahasa Jepang, termasuk situs berita yang berfokus pada permainan dan budaya hiburan. Salah satu laporan menyoroti fakta bahwa lebih dari seratus penduduk menggunakan nama Naruto dan Sasuke, sementara 190 orang mempunyai nama Uzumaki.
Jepang Sudah Lama Punya Jejak Kuat di Televisi Indonesia
Untuk memahami munculnya nama tersebut, sejarah konsumsi budaya populer Jepang di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari televisi.
Beberapa generasi tumbuh bersama serial animasi Jepang yang ditayangkan pada pagi dan sore hari.
Doraemon menjadi salah satu contoh paling kuat. Pada awal Januari 2026, berakhirnya penayangannya di salah satu stasiun televisi nasional bahkan memunculkan gelombang nostalgia karena serial tersebut telah hadir sekitar 35 tahun.
Bagi penonton yang tumbuh pada periode tersebut, nama Nobita, Doraemon, Shizuka, Suneo, dan Giant sangat mudah dikenali.
Kemudian datang generasi Naruto, One Piece, Inuyasha, dan berbagai serial lain.
Internet memperluas akses tersebut karena penggemar tidak lagi bergantung pada jadwal televisi. Manga, permainan, komunitas penggemar, layanan streaming, serta media sosial membuat karakter Jepang semakin mudah dikenal.
Karena itu, penggunaan nama anime pada dokumen penduduk dapat dilihat sebagai bagian dari perjalanan panjang hubungan masyarakat Indonesia dengan hiburan Jepang.
Naruto Paling Dominan Bila Nama Serumpun Digabung
Dilihat satu per satu, Uzumaki memang menjadi nama terbanyak. Namun, bila nama yang berasal dari lingkungan Naruto dihitung bersama, dominasinya terlihat jauh lebih besar.
Uzumaki memiliki 190 pencatatan, Sasuke 158, Naruto 157, Uchiha 152, dan Boruto 60. Totalnya mencapai 717 pencatatan.
Tentu jumlah tersebut tidak dapat dianggap sebagai 717 keluarga yang secara pasti mengambil inspirasi langsung dari anime.
Satu orang juga dapat mempunyai nama tersebut karena alasan berbeda.
Namun, kemunculan lima istilah yang sangat dikenal dari satu waralaba menunjukkan posisi Naruto yang kuat dalam budaya populer Indonesia.
Teguh sendiri sempat mengatakan Naruto merupakan karakter animasi kesukaan anaknya dan kerap ditonton ketika makan. Pernyataan ringan tersebut ikut menunjukkan betapa familiernya serial ini dalam kehidupan keluarga Indonesia.
Nama Anime Hanya Sebagian dari Temuan Unik Dukcapil
Rakornas Dukcapil 2026 sebenarnya tidak hanya membicarakan karakter anime.
Teguh juga memperlihatkan sejumlah nama lain yang dianggap menarik dalam basis data nasional.
Nama negara, misalnya, ternyata digunakan dalam jumlah jauh lebih besar.
Data yang dipaparkan mencatat 28.818 penduduk bernama Oman, 12.288 bernama Yunani, 10.103 bernama Yaman, 7.127 bernama Suriah, serta 6.689 bernama Saudi. Nama Rusia, Timor, Ghana, dan Bahrain juga ditemukan pada ribuan penduduk.
Hal tersebut memperlihatkan betapa beragamnya pola pemberian nama di Indonesia.
Anime hanya salah satu sumber inspirasi di antara bahasa daerah, nama keluarga, agama, tokoh publik, negara, budaya populer, dan preferensi pribadi orang tua.
Dukcapil juga mencatat total penduduk Indonesia pada Semester I 2026 mencapai 290.125.073 jiwa. Dalam jumlah penduduk sebesar itu, variasi nama tentu menjadi sangat luas.
Tidak Otomatis Semua Naruto Masih Anak
Penyebutan nama tokoh anime yang dijadikan nama anak sering digunakan dalam pemberitaan karena orang tua biasanya menentukan nama ketika kelahiran dicatat.
Namun, data Dukcapil yang dipaparkan merupakan data penduduk.
Artinya, daftar tersebut tidak secara otomatis menjelaskan usia seluruh pemilik nama.
Seseorang bernama Naruto dapat saja masih bersekolah, sudah bekerja, atau berada pada kelompok usia lainnya.
Data yang dipublikasikan juga tidak menyertakan rincian lokasi, tanggal lahir, nama lengkap, atau identitas pribadi pemilik nama.
Pembatasan tersebut penting karena data kependudukan mempunyai tingkat perlindungan yang tinggi.
Informasi yang disampaikan kepada publik hanya berupa agregasi jumlah nama, sehingga seseorang tidak dapat langsung mengetahui siapa 157 penduduk bernama Naruto atau 16 penduduk bernama Doraemon.
Kesamaan Nama Belum Membuktikan Sumber Inspirasinya
Ada satu hal lain yang perlu diperhatikan ketika melihat angka tersebut.
Kesamaan sebuah nama dengan karakter anime tidak selalu dapat membuktikan bahwa orang tua memang mengambilnya dari serial tertentu.
Nama Sasuke, misalnya, merupakan nama Jepang yang telah ada di luar karakter Naruto.
Beberapa nama lain juga dapat mempunyai penggunaan atau asal yang berbeda.
Karena itu, data lebih aman disebut sebagai nama yang identik atau dikaitkan dengan karakter anime sebagaimana dikelompokkan dalam pemaparan Dukcapil.
Untuk mengetahui alasan sebenarnya, diperlukan informasi langsung dari keluarga pemilik nama.
Namun, beberapa contoh mempunyai hubungan yang lebih spesifik.
Kombinasi seperti Uzumaki, Uchiha, D. Luffy, dan Doraemon sangat mudah dikaitkan dengan karya tertentu karena identitasnya sangat kuat dalam budaya populer.
Indonesia Memiliki Aturan Pencatatan Nama
Kebebasan memilih nama bukan berarti pencatatan dokumen kependudukan berlangsung tanpa pedoman.
Indonesia mempunyai Peraturan Menteri Dalam Negeri Nomor 73 Tahun 2022 tentang Pencatatan Nama pada Dokumen Kependudukan. Aturan tersebut ditetapkan pada 11 April 2022, diundangkan pada 21 April 2022, dan masih tercatat berlaku.
Peraturan itu dibuat untuk memberikan pedoman kepada penduduk dan pejabat pencatatan sipil.
Dalam penerapannya, nama yang dicatat perlu mudah dibaca, tidak mempunyai arti negatif, dan tidak menimbulkan tafsir yang bermacam macam. Pencatatan juga menggunakan huruf Latin, dengan jumlah maksimal 60 karakter termasuk spasi dan dianjurkan paling sedikit terdiri atas dua kata. Angka serta tanda baca tidak digunakan dalam pencatatan nama sesuai ketentuan yang berlaku.
Aturan tersebut tidak membuat daftar karakter anime yang dilarang.
Jadi, persoalan utamanya bukan apakah nama berasal dari manga, film, permainan, atau tokoh terkenal.
Yang diperhatikan adalah kesesuaiannya dengan ketentuan administrasi serta kepentingan orang yang akan menggunakan nama tersebut.
“Nama yang terdengar lucu bagi orang dewasa akan dibawa seseorang selama bertahun tahun. Karena itu, inspirasi dari karakter favorit tetap sebaiknya disertai pertimbangan mengenai kenyamanan anak ketika nama itu digunakan di sekolah, pekerjaan, dan pelayanan publik.”
Nama Lama Tidak Otomatis Harus Diubah
Permendagri Nomor 73 Tahun 2022 berlaku sejak April 2022.
Keberadaan aturan tersebut tidak berarti nama penduduk yang sudah lebih dahulu tercatat otomatis harus diubah hanya karena mempunyai bentuk yang berbeda dari pedoman baru.
Dukcapil bahkan mempunyai data nama yang panjangnya melebihi ketentuan sekarang karena pencatatannya dilakukan sebelum aturan tersebut berlaku.
Teguh dalam pemaparan data Semester I 2026 menyebut terdapat penduduk dengan nama mencapai 79 karakter. Ia menjelaskan nama tersebut telah ada sebelum ketentuan maksimum 60 karakter diberlakukan.
Prinsip serupa membantu menjelaskan mengapa variasi nama di dalam basis data Indonesia sangat luas.
Sistem administrasi kependudukan mencakup penduduk yang lahir pada periode aturan dan kebiasaan penamaan yang berbeda.
Sorotan Jepang Menunjukkan Anime Sudah Menembus Batas Hiburan
Mainichi Shimbun tidak hanya mengulang angka dari Indonesia. Pemilihan berita tersebut menunjukkan bahwa fenomena ini juga dianggap menarik dari negara tempat sebagian besar karakter tersebut berasal.
Bagi Jepang, Naruto, Nobita, Doraemon, Luffy, dan Shinchan merupakan bagian dari industri manga dan animasi yang kemudian menyebar ke banyak negara.
Di Indonesia, penerimaan tersebut berlangsung cukup dalam sampai beberapa nama akhirnya masuk ke dokumen kependudukan.
Fenomena itu tidak berarti masyarakat Indonesia meninggalkan sumber nama lokal. Jumlah 190 Uzumaki atau 181 Nobita sangat kecil dibandingkan total penduduk yang telah melampaui 290 juta jiwa.
Namun, justru karena jumlahnya cukup untuk mencapai ratusan orang, temuan itu menjadi sesuatu yang menarik bagi Dukcapil dan media internasional.
Mainichi menempatkan Uzumaki dan Nobita sebagai dua contoh utama. Media Jepang lain kemudian mengikuti dengan pembahasan Naruto, Sasuke, Luffy, Doraemon, dan Suneo.
Ketika seorang warga Indonesia bernama Naruto, Nobita, atau Doraemon memperlihatkan dokumen kependudukannya, nama tersebut akhirnya menjadi lebih dari sekadar referensi budaya populer. Ia sudah menjadi bagian dari identitas resmi seseorang yang tercatat dalam sistem administrasi negara.