Permasalahan Wilayah

Permasalahan Wilayah

Permasalahan Wilayah

Pengembangan wilayah tidak hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi di wilayah yang bersangkutan. Akan tetapi, pengembangan wilayah juga berkaitan dengan aspek politik, sosial, budaya, dan aspek-aspek lainnya. Pertumbuhan ekonomi ternyata belum sepenuhnya dapat dinikmati oleh seluruh lapisan masyarakat. Terdapat wilayah yang masyarakatnya memiliki ekonomi yang kuat (kaya), namun terdapat juga banyak wilayah yang masyarakatnya masih lemah ekonominya (miskin). Akibatnya, timbul masalah ketimpangan wilayah yang perlu untuk segera dicari jalan keluarnya.

Permasalahan ketimpangan antarwilayah diakibatkan oleh potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang tidak sama antara wilayah satu dan wilayah yang lainnya. Perbedaan potensi tersebut mengakibatkan tingkat perkembangan wilayah tidak sama. Ketimpangan antarwilayah tidak hanya terjadi dalam wilayah di suatu negara saja, melainkan juga wilayah antarnegara. Sebagai contoh, negara maju selalu ditandai oleh kegiatan industri dan jasa dengan produktivitas dan pendapatan yang tinggi. Sementara itu, negara berkembang ditandai oleh kegiatan pertanian tradisional dengan tingkat produktivitas dan pendapatan yang rendah. Ketimpangan muncul karena wilayah di negara berkembang akan ditekan oleh sistem kapitalis yang lebih menguntungkan bagi wilayah di negara maju

Permasalahan wilayah lainnya adalah terdapat wilayah-wilayah yang mati akibat ditinggalkan oleh penduduknya dan tidak ada upaya pengembangan lagi di wilayah tersebut. Hal tersebut umumnya terjadi di wilayah bekas pertambangan. Wilayah pertambangan menarik untuk dikembangkan hanya ketika potensi pertambangan masih ada. Saat potensi tambang sudah tidak lagi dimiliki, wilayah tersebut menjadi tidak menarik untuk dikembangkan dan mulai ditinggalkan oleh penduduknya. Apabila peristiwa tersebut tidak dapat diatasi, maka lama-kelamaan wilayah tersebut akan kosong dan mati perkembangannya. Selain itu, wilayah-wilayah yang mati juga dapat terjadi di wilayah industri yang sudah tidak lagi beroperasi karena kehabisan bahan baku, permintaan pasar menurun, maupun akibat bencana alam yang dahsyat.

Besarnya arus urbanisasi merupakan permasalahan wilayah yang banyak terjadi di seluruh kota-kota besar. Urbanisasi adalah fenomena yang wajar sebagai bagian dari dinamika kependudukan. Akan tetapi, urbanisasi yang tidak terkendali dapat menimbulkan berbagai permasalahan sosial dan lingkungan. Kualitas lingkungan di suatu kota dapat menurun serta diikuti dengan munculnya daerah-daerah kumuh. Kondisi tersebut akan diikuti oleh timbulnya berbagai permasalahan sosial akibat tingginya tingkat persaingan antarpenduduk. Penduduk yang kalah dalam persaingan tersebut menjadi pengangguran, menimbulkan tindak kriminalitas, dan berbagai tindakan lainnya yang menyebabkan timbulnya permasalahan wilayah.

Banyak terdapat wilayah-wilayah yang masih tertinggal dalam pembangunan. Permasalahan wilayah terjadi akibat keterbatasan sarana dan prasarana transportasi yang menghubungkan antara wilayah tertinggal dan wilayah yang relatif lebih maju. Sebagian besar wilayah tertinggal merupakan wilayah yang miskin sumber daya, khususnya sumber daya manusia. Banyak juga wilayah yang belum diprioritaskan dalam pembangunan karena dianggap kurang menguntungkan. Selain itu, terdapat juga banyak wilayah yang memiliki produk unggulan dan lokasi yang strategis, namun belum dikembangkan secara optimal.

Berikut ini hal-hal yang dapat menghambat pengembangan suatu wilayah secara optimal.

  1. Belum adanya sikap profesionalisme dari pelaku ekonomi di wilayah yang bersangkutan.
  2.  Masih lemahnya koordinasi, sinergi, dan kerja sama antarpelaku pengembangan wilayah dalam upaya meningkatkan daya saing produk unggulan.
  3. Belum berkembangnya infrastruktur.
  4. Kebijakan nasional dan daerah kurang berpihak kepada pelaku usaha.
  5. Adanya keterbatasan informasi untuk pengembangan produk unggulan.
  6. Keterbatasan akses pelaku usaha dalam mendapatkan modal pengembangan usaha, dukungan teknologi, dan jaringan pemasaran.

Baca Artikel Lainnya:

Dampak Interaksi antara Wilayah Desa dan Wilayah Kota

Dampak Interaksi antara Wilayah Desa dan Wilayah Kota

Dampak Interaksi antara Wilayah Desa dan Wilayah Kota

Interaksi antara desa dan kota terjadi karena adanya perbedaan karakteristik antara kedua wilayah tersebut. Adanya perbedaan ini menyebabkan tidak semua kebutuhan hidup masyarakat dapat diperoleh dari desa saja atau dari kota saja. Interaksi desa dan kota menimbulkan dampak tertentu, baik bagi desa maupun bagi kota. Dampak tersebut dapat berupa pengaruh positif maupun pengaruh negatif. Apa saja dampak-dampak tersebut? Mari, kita perhatikan penjelasan berikut ini.

 

  1.    Pengaruh Positif bagi Desa

Pengaruh positif interaksi antara desa dan kota bagi desa antara lain sebagai berikut.

  1.  Perkembangan bidang wiraswasta, seperti bidang kerajinan tangan, industri rumah tangga, peternakan, dan bidang pertukangan. Hal ini dapat terjadi karena berkembangnya sarana transportasi dan telekomunikasi.
  2. Masuknya para ahli dari berbagai bidang disiplin ilmu dapat membantu dalam melestarikan lingkungan perdesaan, seperti mencegah erosi dan melestarikan sumber daya air.
  3. Pengetahuan penduduk desa menjadi semakin meningkat. Pengetahuan mengenai usaha-usaha di bidang non-agraris menjadi lebih terbuka, tidak terbatas di bidang pertanian saja. Contohnya, pengetahuan tentang masalah perdagangan dan ekonomi desa.
  4. Peningkatan hubungan antara desa dan kota karena adanya perluasan jaringan lalu lintas.
  5.  Wargapedesaan yang memiliki pengetahuan luas mengenai masalah pembangunan dapat menjadi penggerak kemajuan warga.
  6. Teknologi tepat guna di bidang pertanian dan peternakan untuk meningkatkan produktivitas dan penghasilan penduduk desa.
  7. Campur tangan pemerintah pusat dan daerah telah meningkatkan kualitas dan kuantitas hasil pertanian.
  8. Masuknya komoditas tanaman perdagangan sebagai pengganti tanaman pertanian.
  1. Pengaruh Negatif bagi Desa

Pengaruh negatif interaksi antara desa dan kota bagi desa antara lain sebagai berikut.

  1.  Banyaknya lowongan pekerjaan di berbagai bidang telah banyak menyerap pemuda desa sehingga desa mengalami kekurangan tenaga kerja potensial di bidang pertanian.
  2.   Adanya modernisasi di kota dapat mendorong masyarakat desa untuk meninggalkan pekerjaan di sektor pertanian. Akibatnya, banyak lahan pertanian yang tidak tergarap.
  3.   Banyaknya orang kaya yang membeli tanah di pedesaan dapat mengubah tata guna lahan di pedesaan.
  4. Pengaruh televisi dan media massa juga mempunyai segi negatif, misalnya pengaruh siaran-siaran yang tidak pantas dan film-film yang kurang mendidik.
  5. Masuknya kebudayaan kota ke desa yang kurang sesuai dengan kebudayaan ataupun tradisi desa. Hal ini cenderung mengganggu adat istiadat atau budaya desa.
  1.    Pengaruh Positif bagi Kota

Pengaruh positif interaksi antara desa dan kota bagi kota antara lain sebagai berikut.

  1.  Banyaknya penduduk desa yang pergi ke kota mengakibatkan kota mengalami tenaga kerja melimpah.
  2. Tercukupinya kebutuhan bahan pangan bagi penduduk kota karena mendapatkan suplai dari daerah pedesaan.
  3.   Kota menjadikan desa sebagai daerah pemasaran berbagai produk yang dihasilkan. Hal ini memberikan keuntungan yang melimpah bagi kota.
  1.    Pengaruh Negatif bagi Kota

Pengaruh negatif interaksi antara desa dan kota bagi kota antara lain sebagai berikut.

  1. Banyaknya penduduk dari desa tanpa keahlian yang pergi ke kota dapat menyebabkan pengangguran dan berbagai masalah kependudukan.
  2.  Banyak permukiman kumuh di kota sebagai tempat tinggal orang-orang yang tidak dapat bersaing dengan kehidupan di kota.
  3.  Terjadi degradasi (penurunan) kualitas lingkungan akibat pembangunan secara besar-besaran di wilayah kota. Terjadi degradasi (penurunan) kualitas lingkungan akibat pembangunan secara besar-besaran di wilayah kota.
  4. Semakin mahalnya harga lahan dan tempat tinggal di kota, bahkan mustahil dapat terbeli oleh penduduk dari desa.

Baca Artikel Lainnya:

Sejarah dan Perkembangan Renang

Sejarah dan Perkembangan Renang

Sejarah dan Perkembangan Renang

Sejarah Renang

Hon.Co.Id – Manusia sudah dapat berenang sejak zaman prasejarah, bukti tertua mengenai berenang adalah lukisan-lukisan tentang perenang dari Zaman Batu telah ditemukan di “gua perenang” yang berdekatan dengan Wadi Sora di Gilf Kebir, Mesir barat daya. Catatan tertua mengenai berenang berasal dari 2000 SM. Beberapa di antara dokumen tertua yang menyebut tentang berenang adalah Epos Gilgamesh, Iliad, Odyssey, dan Alkitab (Kitab Yehezkiel 47:5, Kisah Para Rasul 27:42, Kitab Yesaya 25:11), serta Beowulf dan hikayat-hikayat lain. Pada 1538, Nikolaus Wynmann seorang profesor bahasa dari Jerman menulis buku mengenai renang yang pertama, Perenang atau Dialog mengenai Seni Berenang (Der Schwimmer oder ein Zwiegespräch über die Schwimmkunst).
Perlombaan renang di Eropa dimulai sekitar tahun 1800 setelah dibangunnya kolam-kolam renang. Sebagian besar peserta waktu itu berenang dengan gaya dada. Pada 1873, John Arthur Trudgen memperkenalkan gaya rangkak depan atau disebut gaya trudgen dalam perlombaan renang di dunia Barat. Trudgen menirunya dari teknik renang gaya bebas suku Indian di Amerika Selatan. Renang merupakan salah satu cabang olahraga dalam Olimpiade Athena 1896. Pada tahun 1900, gaya punggung dimasukkan sebagai nomor baru renang Olimpiade. Persatuan renang dunia, Federation Internationale de Natation (FINA) dibentuk pada 1908. Gaya kupu-kupu yang pada awalnya merupakan salah satu variasi gaya dada diterima sebagai suatu gaya tersendiri pada tahun 1952.

Perkembangan renang di Indonesia

Sejak sebelum kemerdekaan, di negara kita telah ada beberapa kolam renang yang indah dan baik. Akan tetapi pada waktu itu, kesempatan bagi orang-orang Indonesia untuk belajar berenang tidak mungkin. Hal ini disebabkan setiap kolam renang yang dibangun hanyalah diperuntukkan bagi para bangsawan dan penjajah saja.
Memang waktu itu ada juga kolam renang yang dibuka bagi masyarakat banyak, akan tetapi harga tiket masuk sedemikian tingginya, sehinggara para pengunjung tertentu tidak bisa membayar tiket masuk untuk berenang.
Salah satu dari sekian banyak kolam renang yang dibangun setelah tahun 1900 adalah kolam renang Cihampelas di Bandung yang didirikan pada tahun 1904. Sesuai dengan tempat kelahiran kolam renang Cihampelas, maka awal dari kegiatan olahraga renang di Indonesia dapat dikatakan mulai dari Bandung.
Pertama-tama berdiri perserikatan berenang diberi nama Bandungse Zwembond atau Perserikatan Berenang Bandung, didirikan pada tahun 1917, perserikatan ini membawahi 7 perkumpulan yang diantaranya adalah perkumpulan renang di lingkungan sekolah seperti halnya OSVIA, MULO dan KWEEKSCHOOL.
Selain Bandung, Jakarta dan Surabaya juga mendirikan perkumpulan-perkumpulan berenang dalam tahun yang sama. Kemudian barulah di tahun 1918 berdiri West Java Zwembond atau Perserikatan Berenang Jawa barat dan pada tahun 1927 berdiri pula Oost Java Zwembond atau Perserikatan Berenang Jawa Timur yang beranggotakan kota-kota seperti : Malang, Surabaya, Pasuruan, Blitar dan Lumajang. Sejak saat itu pula mulai diadakan pertandingan maupun antar daerah. Bahkan kejuaraan-kejuaraan itu, rekor-rekornya juga menjadi rekor di negeri Belanda.
Dalam tahun 1934, peloncat indah masing-masing Haasman dan Van de Groen, berhasil keluar sebagai juara pertama dan kedua dalam nomor-nomor papan 3 meter dan menara. Pada Far Eastern Games di Manila, Philipina (kini kegiatan itu berkembang menjadi Asian Games sejak tahun 1951). Kedua peloncat itu juga menjadi utusan Hindi Belanda.
Di tahun 1936, Pet Stam seorang Hindia Belanda berdasarkan rekornya 0:59.9 untuk 100 meter gaya bebas yang dicatat di kolam renang Chiampelas Bandung, berhasil dikirim untuk ambil bagian dalam Olimpiade Berlin atas nama negeri Belanda. Dua orang peloncat indah masing-masing Haasman di bagian putera dan Kiki Heckle turut pula ambil bagian dalam Olimpiade Berlin, dimana peloncat putri menduduki urutan ke 8.
Hingga tahun 1940, Nederlands Indishce Zwembond atau NIZB telah beranggotakan 12.00 perenang. Pada zaman pendudukan Jepang tahun 1943 – 1945, kesempatan untuk bisa berenang bagi bangsa Indonesia semakin besar. Oleh karena pemerintahan pendudukan Jepang, membuka seluruh kolam renang di tanah air untuk masyarakat umum. Periode tahun 1945, perkembangan olahraga renang di tanah air praktis menurun, karena saat itu bangsa Indonesia dalam kancah perjuangan melawan penjajah.
Hingga tanggal 20 Maret 1951, dunia renang Indonesia praktis berada di bawah pimpinan Zwembond Voor Indonesia (ZBVI) dan kemudian sejak tanggal 21 Maret 1951 lahirlah Persatuan Berenang Seluruh Indonesia yang kemudian disingkat PBSI. Kongresnya yang pertama di Jakarta, berhasil mengukuhkan Ketua yang pertama, Prof. dr. Poerwo Soedarmo, dibantu oleh wakil ketua, sekretaris, bendahara dan komisi teknik.
Sejak saat itu, olahraga renang Indonesia setahap demi setahap maju dan berkembang serta selanjutnya dalam tahun 1952, PBSI menjadi anggota resmi dari Federasi Renang Dunia – FINA (singkatan dari Federation Internationale de Nation). dan International Olympic
Hingga tahun 1952 telah terdaftar sebanyak 29 perkumpulan, tergabung dalam PBSI. Oleh karena itu kemudian didirikan top-top organisasi olahraga berenang di tingkat daerah. Perkembangan olahraga berenang di Indonesia kian hari kian berkembang, hal ini ditandai dengan penyelenggaraan perlombaan renang hampir setiap tahun di tingkat nasional. Begitu pula halnya dalam setiap pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional (PON), cabang olahraga renang menjadi nomor-nomor utama.
Dengan makin berkembangnya prestasi olahraga renang di Indonesia pada tahun 1952, Indonesia mengirimkan duta-duta renangnya ke arena Olympiade di Helsinki, kemudian tahun 1953 kembali Indonesia ambil bagian dalam Youth Festival di Bukarest. Pada tahun 1954 regu polo air Indonesia dikirim untuk mengikuti Asian Games ke II di Manila, Philipina.
Pada tahun 1954, berlangsung kongres PBSI ke II, diselenggarakan di Bandung dengan menghasilkan susunan pengurus yang diketuai oleh D. Seoprajogi, ditambah satu sekretaris, bendahara dan 3 komisi teknik. Kongres PBSI yang ke III diselenggarakan di Cirebon, dimana dalam kongres ini memilih kembali kepengurusan baru yang ketuanya masih tetap di jabat D. Soeprajogi, ditambah 3 pengurus lainnya.
Untuk ke IV kalinya PBSI menyelenggarakan kongres pada tahun 1957 di Makasar (sekarang Ujung Pandang) Kongres ini menghasilkan beberapa keputusan, diantaranya memilih susunan kepengurusan yang baru dengan ketua D. Soeprajogi. Kemudian atas permintaan peserta kongres istilah persatuan dalam singkatan PBSI, diganti menjadi Perserikatan. Dengan demikian PBSI dalam hal ini menjadi singkatan dari Perserikatan Berenang Seluruh Indonesia.
Di tahun 1959 diadakan Kejuaraan Nasional Renang. Kejuaraan ini untuk pertama kalinya mengadakan pemisahan antara Senior dan Junior di Malang, Jawa Timur. Berlangsung pula kongres PBSI ke V, dimana pada kongres itu disamping memilih kepengurusan baru yang ketuanya masih tetap dipercayakan kepada D. Soeprajogi, juga kongres ini merubah nama Perserikatan Berenang Seluruh Indonesia (PBSI) menjadi Perserikatan Renang Seluruh Indonesia (PRSI).
Perubahan ini timbul dengan pertimbangan bahwa terdapatnya dua induk organisasi olahraga yang mempunyai singkatan sama PBSI. Selain cabang olahraga renang, singkatan ini juga digunakan oleh Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia. Pada Kongres di Malang Jawa Timur Ketua PRSI, D. Soeprajogi di dampingi oleh 2 wakil ketua, dua sekretaris, bendahara, pembantu umum ditambah komisi teknik dengan 2 orang anggota.
Kemajuan olahraga renang secara keseluruhan berkembang kian pesat dan dalam tahun 1962, berhasil menampilkan nama-nama besar seperti Achmad Dimyati, Mohamad Sukri di bagian putera, sementara Iris, Tobing, Lie Lan Hoa, Eny Nuraeni serta banyak lagi di bagian puteri. Dalam tahun 1963 di Jakarta, kembali PRSI menyelenggarakan kongres dan berhasil menyusun kepengurusan baru dengan ketua umum D. Soeprajogi. Selanjutnya di dampingi 3 orang ketua, 2 orang renang, loncat indah dan polo air. Keputusan lain yang diperoleh dalam kongres PRSI ke VI itu adalah merubah kembali istilah \”Persatuan\”. Hingga sekarang PRSI
merupakan singkatan dari Persatuan Renang Seluruh Indonesia. Meskipun dalam falsafahnya bahwa olahraga itu tidak bisa dikaitkan dengan politik. Namun dalam kenyatannya perkembangan politik di dalam negeri pada waktu itu membawa pengaruh besar terhadap perkembangan olahraga.
Pada tahun 1963 Indonesia harus mengundurkan diri dari pesta olahraga GANEFO, dimana pesertanya ada beberapa negara yang memang belum menjadi anggota FINA. Untuk menghindarkan kemungkinan adanya skorsing, Indonesia dalam hal ini PRSI mengambil langkah pengunduran diri sebagai anggota FINA. Pada tahun 1966, Indonesia kembali menjadi anggota FINA. Pada tahun itu Indonesia mengambil bagian dalam Asian Games ke V di Bangkok.
Musyawarah PRSI ke VII berlangsung kembali di Jakarta pada tanggal 24 – 27 April 1968. Salah satu keputusannya mengukuhkan kepengurusan baru PRSI dengan ketua umum tetap dipercayakan kepada D. Soeprayogi, di tambah dengan 2 orang ketua, 2 sekretaris, bendahara dan panitia teknik yang terdiri atas 3 orang masing-masing untuk renang, loncat indah dan polo air.