Es di Kutub Mencair, Waspada Virus Ini Bangkit dari Tidur

Rate this post

Es mencair di kutub, waspadalah terhadap virus ini yang terbangun dari tidur panjang

es-di-kutub-mencair

Perubahan iklim secara perlahan mencairkan permafrost (tanah beku) yang telah membeku di kutub selama ribuan tahun. Dan ketika mencair, mereka dapat melepaskan dan membangunkan virus dan bakteri purba yang tidur di dalam es.

Hal ini tentu saja akan menyebabkan penyakit baru (dan lama) menyebar ke tempat-tempat yang sebelumnya dianggap aman. Berikut adalah beberapa penyakit yang bisa diakibatkan oleh mencairnya es di kutub utara.
antraks

Live Science melaporkan bahwa wabah antraks menyerang kawanan rusa kutub di Siberia pada akhir Juli 2016, menewaskan lebih dari 2.000 orang. Selain itu, beberapa orang dikatakan sakit.

Pelakunya? Menurut pihak berwenang setempat, ini adalah bangkai rusa dari 80 tahun lalu yang tetap terperangkap di lapisan es sampai musim panas mencairkannya.

Menurut ahli bakteriologi medis dari University of Missouri, AS, antraks diketahui parah. Bentuk spora infeksius dikelilingi oleh cangkang protein yang dapat dihasilkannya, tetapi tersuspensi dengan aman di tanah selama berabad-abad.

Para peneliti juga telah memperingatkan selama bertahun-tahun bahwa jika tanah Siberia mencair, kuburan sapi dan rusa yang terinfeksi antraks dapat memicu epidemi baru.

Virus distemper phocine (PDV)
Virus ini sebelumnya hanya ada di Samudera Atlantik. Namun setelah tahun 2004, wabah ini menginfeksi berang-berang laut di negara bagian Alaska, AS, yang berbatasan dengan Samudra Pasifik.
Mencairnya es telah membuka jalan yang sebelumnya terhalang oleh Lingkaran Arktik. Jalur terbuka memungkinkan hewan yang terinfeksi PDV untuk kemudian dengan mudah menyebarkan virus dari Atlantik Utara ke Pasifik Utara.

PDV ditularkan melalui cairan pernapasan ketika hewan melakukan kontak di darat atau di laut. Banyak spesies anjing laut dan berang-berang yang rentan terhadap virus ini, meskipun dalam derajat yang berbeda-beda.

penyakit zombie
Anthrax bukan satu-satunya patogen yang mungkin menunggu untuk mencair di lapisan es. Pada tahun 2015, para peneliti mengumumkan bahwa virus raksasa yang mereka temukan di permafrost Siberia masih menular setelah 30.000 tahun

Untungnya, virus ini hanya menginfeksi amuba dan tidak berbahaya bagi manusia. Namun, kehadirannya masih menimbulkan kekhawatiran bahwa patogen yang berpotensi lebih mematikan seperti cacar atau bahkan virus yang tidak dikenal bersembunyi di es.

Meskipun bakteri ini dapat disembuhkan dengan antibiotik atau bakteri atau virus yang resisten, risiko yang muncul tidak boleh diabaikan, terutama jika patogen sudah lama tidak bersentuhan dengan manusia, karena dapat menyebabkan sistem kekebalan tubuh yang tidak siap.

Sumber :